LONG LIFE EDUCATIONMinggu, 11 Desember 2011 12:23 Tim Buletin
Ibu Mulyani
Kepala sekolah SMA Santa Maria; Bpk. Ferdinandus Nipa, S.pd, membuat suatu pembelajaran yang berharga dalam dunia pendidikan di lingkungan SMA Santa Maria.
Hari itu, Senin, 14-18 semua para pendidik SMA Santa Maria berkumpul diruang perpustakaan SMA Santa Maria guna mengikuti pelatihan pengunaan media TIK dengan judul “Optimalisasi Penggunaan Media TIK”. Hal yang biasa bagi kita para para pendidik jika mendengar istilah pelatihan, tidak ada yang istimewa atau sangat luar biasa. Namun berbeda dengan pelatihanpelatihan biasanya, sebab kalau palatihan-pelatihan biasanya diberi oleh seorang ahli pendidikan, atau ahli Teknologi Informatika, mungkin itu biasa, tapi lain dengan pelatihan yang diikuti oleh para pendidik-para pendidik SMA Santa Maria, karena palatihan yang diikuiti adalah pelatihan yang diberikan oleh para murid SMA Santa Maria (Dwi, Stephen Marlin, Wilson, Ria dan Prayoga), dengan kata lain adalah, dalm unam pelatihan pengunaan media TIK tersebut para para pendidik dilatih atau diajar oleh murid-muridnya sendiri, yang biasanya diajar oleh para pendidik-para pendidik tersebut di kelas.
Mungkin bagi kita para para pendidik atau siapa saja yang membaca tulisan ini pasti, merasa aneh dan mungkin sudah bisa membayangkan bagaimana itu terjadi, seorang para pendidik diajar oleh muridnya, sangat tidak biasa. Mungkin kita akan membayangkan, bahwa mungkin selama kegiatan pelatihan tersebut, para pendidik pasti merasa canggung, atau hanya sekedar mengikuti program tanpa menganggap serius pelatihan tersebut. Jika itu yang kita pikirkan, maka kita keliru karena dalam pelatihan tersebut, para pendidik-para pendidik SMA Santa Maria sangat antusias dan serius mengikuti pelatihan tersebut, bahkan setelah pelatihan, ada para pendidik yang merasa kagum akan kcerdasan anak-anak didiknya, contohnya Ibu Muliyani, para pendidik bahasa Indonesia dan juga waka bagian kurikulim, beliau kagum akan ketrampilan dan kecerdasan anak-anak didiknya, yang pandai mengajar, pandai mentransferkan pengetahuaannya ke orang lain.
Rasa bahagia pun menghingapi para murid yang memberikan pelatihan tersebut, seperti yang dikatakan oleh Dwi, salah satu peserta didik yang menjadi pembicara dalam pelatihan, katanya: “awalnya saya sedikit minder, karena saya menghadapi para pendidik saya sendiri yang dari banyak hal kemampuannya melebihi saya dan teman-teman, tapi perasaan itu hilang karena kalau kami minder maka ada kemungkinan pelatihan itu tidak berjalan seperti yang diharapkan dan itu pasti akan mengecewakan pihak sekolah yang telah mempercayai kami. Jujur kami merasa takjub akan sekolah Santa Maria, terlebih kepada para pendidik yang mau mendengar kami, mau belajar dari kami, saya berpikir jarang ada sekolah yang membuat ini. Terimakasih pada pihak sekolah, kami banyak mendapat pelajaran, kami menasa kepercayaan diri kami, kami merasa kemampuan berbicara kami, kami melatih kesabaran kami, dan yang lebih berharga lagi, kami jadi mengerti bahwa menjadi pengajar adalah sesuatu yang luar biasa sulitnya. Kami jadi mengerti dan makin menghargai seluruh para pendidik yang ada di muka bumi ini, trimakasih bapak/ibu para pendidik”.
Bapak Ferdinandus Nipa, S.pd, dalam penjelasannya kepada Tim bulletin YPR, menjelaskan, bahwa pelatihan ini yang diadakan ini untuk mencapai 3 sasaran,anatara lain:
melatih para pendidik untuk dapat mengunakan media TIK, sehingga dalam penyajian materi pelajaran dikelas lebioh berfariasi dan lebih jelasa bagi peserta didik melatih peserta didik kita untuk mengembangkan kemampuan, sehingga ketika mereka terjun kemasyarakat mereka benarbenar matang baik dalam bidang Skiil maupun emosional. untuk sekolah, dengan adanya pelatihan ini pihak sekolah dibantu untuk mensukseskan visi dan misi, yakni menjadikan anak-anak Indonesia yang handal dari para pendidik yang handal dengan kegiatan ini, diharapkan dapat menumbuhkan sikap akademis da;lam diri setiap pendidik, karena seaorang para pendidik harus memiliki sikap akademis dalam dirinya, yakni; mau belajar dari siapa saja, kapan saja dan dimana saja.
Melihat apa yang dibuat para pendidik di SMA Santa Maria ini, mungkin dapat menjadi satu motivasi kita agar: mau belajar dari siapa saja, kapan saja, dimana saja dan dari siapa saja, karena selama kita hidup, pendidikan atau proses belajar tidak pernah usai.