Bunda Maria
MATER DOLOROSAMinggu, 11 Desember 2011 11:23 Tim Buletin
Rm. Anton Konseng Pr, ketika memimpin misa di SMP Santa Maria Pekanbaru.
Rabu 14, September 2011,sore itu hujan baru saja membasahi tanah Pekanbaru, bunga-bunga terlihat segar, berdiri tegak seakan memamerkan keindahannya, seolah ingin bermazmur indah untuk memuji keagungan Tuhan Penciptanya.
Seolah tak mau kalah dengan bunga-bunga tersebut, diwaktu yang sama, di SMP Santa Maria di Pekanbaru, Komunitas besar Yayasan Prayoga Riau bermazmur indah bagi Tuhan Sang Agung dalam perayaan Ekaristi bulanan yang bertemakan Maria Mater Dolorosa.
Dibuka dengan tarian dan musik dari budaya Thiong Hoa, Rm. Anton Konseng, Pr yang memimpin perayaan misa sore itu, mengulos patung Maria yang ada di halaman depan SMP Santa Maria Pekanbaru. Dalam penjelasan singkatnya, Rm. Anton, mengatakan, bahwa pengulosan Patung Bunda Maria, adalah simbol bahwa kita mau bersama Maria menderita atas kejadian- kejadian kurang baik yang telah menimpah dunia akhir-akhir ini.
Perayaan ekaristi kemudian dilanjutkan dengan perarakan masuk ke aula SMP Santa Maria, semarak hijau dedaunan, bercampur dengan cahaya lampu yang menerangi ruangan serta lekukan kertas-kertas yang diwarnai dengan sedikit cat bewarna, menjadikan suasana ruangan SMP Santa Maria seperti taman hijau yang indah, ya.. itulah hasil dari sentuhan-sentuhan tangan-tangan trampil, dari guruguru SMP Santa Maria (pak. Dian, Pak Rikardo, pak. Hendrik, pak. Heli, Pak Murzal bu Anas dan para bapak-bapak pramu) serta Guru-guru lain yang tak dapat disebutkan namanya. Sederhana namun indah, menambah kehikmatan umat merenungkan keagungan Tuhan Pencipta.

Sedikit berbeda dengan misa pada umumnya, Rm. Anton melanjutkan penjelasan tentang tema misa, tentang Bunda Tuhan kita Yesus Kristus, yang berduka cita, penjelasan dimulai dengan cerita singkat tentang Maria kecil yang tinggal Sepphoris yang juga adalah kota kelahirannya Maria kemudian mengungsi ke Nazereth, disana Maria akhirnya bertemu dengan sang pujaan hati Yosef yang akhirnya menjadi suaminya. Setelah menjelaskan tentang masa kecil Maria, Rm. Anton melanjutkan dengan mengajak umat yang hadir untuk mendengarkan bacaan kitab suci, dari bacaan-bcaan tersebut, Rm. Anton kemudian menjelaskan; bahwa Maria adalah seorang wanita yang menderita, penderitaannya itu menjadi sangat mengagumkan karena Maria menderita bukan karena perbuatannya, melainkan perbuatan manusia yang berdosa, disamping itu Maria juga adalah ibu yang menderita, karena Maria, turut mengambil bagian dalam kesengsaraan Putranya, Tuhan kita Yesus Kristus, yang disalibkan untuk menebus dosa-dosa kita, Diakhir penjelasannya, Rm Anton mengajak umat yang hadir untuk berdoa kepada bunda Maria, karena Maria pasti solider dengan kita yang menderita. Doa-doa itu disatukan dalam doa umat, yang diiringi dengan tarian lilin oleh anak-anak SMP Santa Maria, misa kemudian dilanjutkan dengan persembahan yang dibawakan dalam tarian tradisional suku batak yang dibawakan guru-guru dan anak-anak SMP Santa Maria. Kemudian misa dilanjutkan Ekaristi kudus dan setelah seluruh perayaan ekaristi selasai misa kemudian ditutup dengan berkat penutup oleh Rm. Anton yang diiringi lagu penutup dari paduan suara guru-guru SMP Santa Maria.