Tahun ini, YPR berusia 40 tahun. Ia akan merayakan puncak pesta Pancawindunya pada bulan Oktober yang akan datang. Usia 40 tahun ini dihitung sejak YPR diberi status Perwakilan dari Yayasan Prayoga di Padang untuk wilayah Riau Daratan, dan diberi nama Yayasan Prayoga Perwakilan Riau (YPPR), pada tahun 1969. Dengan status ini, YPPR diberi wewenang untuk mengurus dirinya sendiri secara otonom.
Semester Pancawindu ini dibuka pada tanggal 4 Mei baru lalu oleh Mgr. Leopoldo Girelli, Duta Besar Tahta Suci Vatikan di Indonesia, dan Mgr. Martinus D. Situmorang OFMcap, Uskup Padang, yang sekarang ini menjadi pula Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Dalam acara Pembukaan itu diisi kata-kata sambutan Ketua YPR, bpk. Frans Sembiring; Koordinator kegiatan Pancawindu, Rm. Anton Konseng; Bpk. Uskup Padang dan Duta Besar Tahta Suci. Dimeriahkan pula dengan sejumlah aktraksi bernuansa kultural dan seni yang menarik, memukau dan membanggakan dari siswa-siswi kita, mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA.
Tema pokok dari Semester Pancawindu adalah “Revitalisasi Pendidikan Katolik menuju Pendidikan Lokal yang Prospektif”. Tema ini diambil dari tema pertemuan Yayasan-yayasan Pendidikan Keuskupan Padang di Padang pada tanggal 23 Maret 2009, “Revitalisasi Pendidikan Katolik menuju Pendidikan yang Prospektif”. Panitia Pancawindu YPR menambah kata “lokal”, pada tema itu untuk memberi tekanan, “kita tak usah mengagung-agungkan pendidikan yang berlabel ‘global’, ‘international’, dll. Pendidikan nasional dan lokal kita pun dapat prospektif. Banyak nilai-nilai dan tema-tema pendidikan yang bernilai tinggi, dapat ditimba dari kearifan-kearifan dan unsur-unsur kebudayaaan lokal kita. Tidak semua yang berasal dari luar bernilai tinggi”, Rm. Anton Konseng, koordinator kegiatan Pancawindu menjelaskan.
Bapak Frans S. Sembiring, Ketua YPR dalam kata sambutannya melukiskan secara garis besar profil YPR, dan sejarah berdirinya. Bapak uskup Padang, Mgr. Martinus D. Situmorang, menekankan bahwa Pendidikan yang prospektif adalah suatu pendidikan yang selalu eksis dan berfungsi baik pada setiap waktu, karena tetap mengutamakan dan selalu menjaga serta meningkatkan mutu. Perhatian pendidikan yang dilayaninya tidak hanya pada pembelajaran pada aspek kognitif, pada kepintaran, lulus ujian nasional dengan ranking tertinggi, juara dalam olimpiade-olimpiade fisika, matematika, dll, yang merupakan asesoris dari pendidikan. Melainkan perhatian dan usaha pendidikan diberikan pada core business dari pendidikan itu, yaitu pada pendidikan seluruh aspek kepribadian siswa-siswinya dan pada kecerdasan bangsa. Dengan demikian. siswa-siswi yang ditamatkannya adalah orang-orang yang matang, dan dewasa, religius dan sosial, cerdas dalam segala aspeknya, mampu bekerja bagi dirinya dan bagi masyarakat dan lain-lain. Institusi pendidikan seperti itulah yang tetap prospektif, karena tetap diminati dan dihargai banyak orang.
Sedangkan menurut Duta Besar Tahta Suci, pendidikan merupakan suatu karya yang melekat pada keberadaan Gereja. Maka YPR telah berjasa dengan mengambil bagian pada karya Gereja yang esensial. Beliau selanjutnya menambahkan bahwa pendidikan yang prospektif adalah pendidikan yang mampu mengembangkan siswa-siswinya tidak hanya secara intelektual, tetapi terutama moral dan spiritual; diarahkan pada upaya-upaya mempersiapkan generasi yang kaya akan nilai-nilai kehidupan, teguh, tegar dalam setiap tantangan zaman. Pendidikan hendaknya juga berpihak pada orang-orang miskin, tak mampu, dan terpinggirkan.
Pada akhir sambutannya, Beliau menyampaikan pula salam dari Paus Benediktus XVI kepada seluruh umat Katolik di Riau, khususnya kepada seluruh keluarga besar YPR. “Beliau mencintai Anda semua, dan berdoa bagi Anda”, katanya.
Dirgahayu YPR. Viva, ad multos annos. (AK)