Pensiun? Siapa TakutMinggu, 11 Desember 2011 12:29 C. SuyudiPensiun merupakan tahapan yang harus dilalui oleh setiap pekerja. Namun untuk melalui tahap ini banyak orang merasa khawatir akan masa depannya. Hal ini terjadi karena banyak orang merasa atau berpikir bahwa pensiun merupakan puncak dari kariernya. Untuk itu, berikut adalah pendapat dari bapak C. Suyudi tentang pensiun.
Bagi orang yang bekerja di Instansi Pemerintah, perusahaan swasta bahkan di yayasan-yayasan, tidak asing lagi dengan kata pensiun. Namun tidak semua orang telah mempersiapkan pensiunnya dengan maksimal. Sebagian orang merasa “selesailah sudah segala jerih payah dan usaha saya selama ini”. Namun banyak juga yang mengangkat tangannya bersyukur kepada Tuhan dengan perasaan bahagia dan bangga karena telah menyelesaikan masa tugas atau pengabdiannya dengan baik, bahkan dengan persiapan pensiun secara lahir batin yang baik. Bagi Anda yang berkarya di Yayasan Prayoga Riau, seyogyanya Anda merasa sangat beruntung karena Yayasan Prayoga Riau menyelenggarakan program pensiun bekerjasama dengan Yadapen yang telah berlangsung dengan baik selama beberapa puluh tahun, dan dirasakan semakin baik kinerjanya dengan terus menerus meningkatkan pelayanannya.
Ada satu cerita tentang seorang insinyur bangunan yang akan memasuki masa pensiunnya. Setelah memberitahukan kepada majikannya bahwa beberapa bulan lagi dia akan pensiun, sang majikan berkata: “Sebelum Anda pensiun, saya minta tolong dibuatkan satu unit rumah sebagai kenang-kenangan karya Anda di perusahaan ini.” “Buatlah yang baik, seperti biasa anda lakukan, bahkan kalau bisa malah yang terbaik” Sang insinyur yang sudah dihantui dengan masa pensiunnya yang menurutnya hanya “apa adanya”, malah menggerutu dan mengerjakan perintah majikannya dengan ogah-ogahan, bekerja apa adanya, pakai bahan-bahan bukan yang terbaik, hingga pada waktunya selesailah rumah itu. Diserahkannya kunci rumah itu kepada sang majikan, dengan perasaan yang tidak gembira. Sang majikan berkata: “Saya terima rumah ini. Tetapi saya merasa kecewa, karena anda telah melalaikan pesan saya untuk membuat yang terbaik”. Lalu si majikan melanjutkan: “Sejak semula saya merencanakan memberikan rumah ini kepada Anda sebagai hadiah atas pengabdian Anda di perusahaan ini, nah kini terimalah rumah ini”. Betapa terkejut dan menyesalnya si insinyur, karena dia telah menghancurkan dedikasinya sendiri dengan berbuat asal-asalan dan tidak ikhlas dalam melaksanakan tugasnya. Apa daya, nasi sudah menjadi bubur.
Inti dari cerita tersebut adalah kita semua dituntut untuk bekerja dengan baik, professional, selalu meningkatkan kompetensi diri dengan belajar seumur hidup, belajar bersama dari siapa saja, penuh dedikasi dan ikhlas apakah pada saat kita masih jauh dari pensiun ataupun jika sudah dekat. Catatan : Pada edisi berikutnya, saya akan menulis kiat bagaimana meningkatkan/memaksimalkan uang pensiun Anda.